![]() |
| Sonja McCaskie - Gambar Asli |
Hari itu Kamis tanggal 4 April 1963, Seorang single mom bernama Sonja Mccaskie, 24 tahun, sedang menikmati malam bebas sendirian. Biasanya ia disibukkan dengan pekerjaannya di siang hari, dan mengurus dua anaknya pada malam hari. Namun pada malam itu, dia bisa me time saat mantan suaminya menawarkan diri untuk mengasuh salah satu anaknya, dan anak yg lain di titipkan di day care.
Sonja menikah dengan seorang pria dan mempunyai dua orang anak, namun kisah cinta mereka tidaklah happy ending. Ia harus bepisah dengan ayah dari anak-anaknya. Sonja berasal dari Elgin, Scotlandia. Pada tahun 1960, Sonja terpilih menjadi atlit Sky Olympik untuk tim Great Britain. Karena Winter Olympik diadakan di Amerika Serikat, tepatnya di Squaw Valley, California, Sonja pindah ke Reno, Nevada, Amerika Serikat yg hanya berjarak sekitar satu jam perjalanan dari Squaw Valley. Sonja sangat bangga dengan pencapaiannya, ia juga merupakan atlit wanita satu-satunya di tim itu.
![]() |
| Sonja McCaskie |
Sonja sangat betah berada di Reno. Ia bergaul dengan baik dengan para tetanganya. Mereka meyukai Sonja karena kepribadiannya yg unik. Sehari-hari, Sonja bekerja sebagai sekretaris di perusahaan pengolahan daging dan pada akhir pekan, ia bekerja sebagai instruktur ski di Slide Montain Ski Resort. Sonja sangat mencintai pekerjaannya. Saat senggang, Sonja juga suka memotret.
Sore itu, Sonja mengundang beberapa sahabat ke kediamannya. Ia berdandan dengan cantik, mengenakan gaun bagus dan perhiasan. Malam itu sangat menyenangkan. Setelah teman-temannya pulang, Sonja memasukkan pakaian kotor ke dalam mesin cuci, kemudian bersih-bersih rumah sedikit. Setelah rumah terlihat rapi, ia pergi tidur. Besok ia harus bekerja.
Keesokan harinya, Sonja dijadwalkan untuk menjemput putranya yg berusia 10 bulan dari day care. Namun Sonja tidak datang. Pengasuh di day care merasa khawatir karena Sonja tidak pernah seperti itu. Sonja selalu tepat waktu. Pengasuh tersebut kemudian menelpon ke rumah Sonja. Karna tidak kunjung ada jawaban, Pengasuh itu kemudian menghubungi polisi untuk mengecek ke kediaman Sonja.
Seorang petugas polisi bernama Mort Ammerman dan seorang rekannya tiba di kediaman Sonja untuk mengecek keadaan disana. Namun, apa yg ia lihat di dalam rumah itu membuatnya terpaku. Polisi itu terdiam sejenak, memproses apa yg sedang ia lihat.
***
Tepat setelah polisi membuka pintu, mereka menemukan sesuatu yg nampak seperti jantung manusia. Sebuah selimut berada di tengah lantai ruang tengah. Saat polisi menyingkap selimut itu, mereka melihat kaki manusia. Polisi kemudian menemukan sebuah peti kayu cedar. Didalamnya sisa tubuh Sonja terlihat. Tiga buah pisau tertancap di batang tubuh Sonja. Wanita itu telah di penggal, kepalanya terrbungkus pakaian dalam dan taplak meja, di letakkan di bawah tubuhnya.
![]() |
| Artikel Koran Pembunhan Sonja |
Melihat bagaimana keadaan tubuh Sonja, polisi menduga pelaku pasti seseorang yg lihai memakai pisau, seperti seorang tukang daging atau ahli bedah. Keset dan selimut berlumuran darah terlihat berserakan di ruang tamu. Sepertinya seseorang berusaha membersihkan ceceran darah, namun karena kesulitan, pelaku menyerah dan membiarkannya begitu saja. Polisi yakin Sonja di bunuh di kamar tidurnya setelah polisi melihat noda darah yg sangat luas di kasur. Polisi juga menemukan jejak kaki berdarah di tempat itu.
| Kasur Berdarah - Gambar Asli |
Penyebab kematian Sonja kemudian diketahui sebagai pencekikan. Sepertinya ia sempat dilecehkan sebelum di cekik dengan sebuah benda. Sonja juga mempunyai beberapa luka tusukan.
Polisi menduga Sonja mengenal penyerangnya karena tidak ditemukan tanda-tanda masuk paksa di pintu atau jendela rumah. Para tetangga juga tidak mendengar suara apapun yg mencurigakan. Selain itu, tidak ada barang yg hilang di rumah sonja, kecuali lensa kamera miliknya. Orang-orang terdekat dan mantan pacar Sonja di periksa polisi, bahkan mereka mendapatkan tes kebohongan. Namun semuanya lolos tes tersebut.
Beberapa hari kemudian, Lensa kamera yg hilang kemudian ditemukan di sebuah tempat gadai di Reno. Diketahui seorang pemuda berusia 18 tahun bernama Thomas Lee Bean, menukar lensa kamera tersebut dengan uang sebanyak 10 dollar. Mengetahui informasi tersebut, polisi segera mencari pemuda tersebut. Thomas merupakan seorang siswa di Sekolah menengah Wooster High School. Thomas dikenal sebagai anak yg pendiam dan penyendiri. Dia suka berjalan-jalan sendirian disekitar lingkungan rumahnya, terutama di malam hari. Saat akan dibawa ke kantor polisi, Thomas berhasil melarikan diri. Polisi kemudian melepaskan beberapa tembakan peringatan dan berhasil mengejarnya. Thomas bersedia bicara terus terang pada polisi dan mengakui pembunuhan Sonja.
![]() |
| Thomas (Tengah) - Gambar Asli |
Polisi kemudian membawa Thomas ke rumah Sonja. Pemuda itu kemudian menceritakan apa yg terjadi di malam naas tersebut. Menurut cerita Thomas, malam itu ia tidak bisa tidur. Saat berjalan-jalan, ia melihat mobil Sonja di depan rumahnya. Mobil itu adalah sebuah sport car merk Triumph. Thomas kemudian berjalan mendekati mobil itu untuk melihat lebih dekat. Saat sedang melihat-lihat mobil, Thomas menemukan pakaian yg di cuci Sonja. Thomas sangat tertarik melihata pakaian-pakaian itu. Thomas mencuri beberapa potong pakaian untuk nanti digunakan memuaskan hasratnya. Thomas pergi pun dari rumah itu.
Thomas kemudian kembali beberapa waktu kemudian untuk mencuri beberapa pakaian Sonja yg lain. Ia melihat pintu belakang terbuka. Thomas membuka sepatu yg ia kenakan, kemudian mengendap-ngendap masuk kedalam rumah Sonja dan melihat-lihat isi rumah itu. Saat sedang berkeliling, Thomas melihat Sonja yg sedang tertidur di dalam kamarnya. Thomas tidak mengenal Sonja, bahkan ia tidak pernah melihatnya sama sekali. Untuk beberapa saat Thomas hanya berdiri memperhatikan Sonja yg tertidur.
Setelah memperhatikan beberapa waktu, Thomas memutuskan untuk menaiki tempat tidur sonja, berusaha untuk tidak membangunkan wanita itu. Thomas mengeluarkan sebuah tali buatan tangan yg dibawanya kemudian melilitkannya ke leher Sonja. Saat Thomas mulai melakukan pelecehan, Sonja terbangun. Sonja sempat memohon agar Thomas tidak menyakiti dirinya karena ia mempunyai anak yg harus ia rawat. Namun alih-alih bersimpati, Thomas malah mengencangkan ikatan tali di leher sonja. Mencekiknya. Thomas juga menusuknya beberapa kali dengan pisau. Setelah sonja tewas, Thomas malah sempat melecehkannya lagi. Sungguh Biadab. Setelah puas, Thomas menyeret tubuh Sonja dari kamar tidur menuju ruang tengah. Thomas memotong jantungnya dan melemparkannya ke dekat pintu masuk. Kemudian ia memenggal kepala Sonja dan berusaha mengulitinya. Thomas menyayat tubuh Sonja dari kemaluan sampai ke leher, kemudian menjejalkan tubuh Sonja ke sebuah peti kayu cedar. Namun kakinya tidak muat dan menggantung di luar. Thomas memotong kaki itu kemudian membungkusnya dengan selimut. Thomas kemudian melemparkan kepala Sonja ke dalam peti seperti layaknya sebuah bola.
Setelah kebrutalan yg dilakukannya, Thomas masih sempat mendengarkan rekaman milik Sonja dan berjalan jalan dengan mobil sport milik wanita itu. Polisi menduga Thomas berada di kediaman Sonja sekitar 5 jam, dan pulang sekitar pukul 5 sampai 5.30 pagi pada tanggal 5 April. Saat ditanya mengapa ia melakukan hal keji tersebut, Thomas menjawab, “Saya tidak tau kenapa saya memotong tubuhnya. Saya tida tahu. Saya hanya menusukkan pisau ke tubuhnya dan mulai memotong, hanya itu.” Thomas mengaku ia memiliki mimpi sejak kecil untuk melecehkan wanita. Ia memiliki mimpi itu sejak berusia 6 tahun.
Ternyata Thomas bukan sekali ini berurusan dengan polisi. Tahun 1961, Thomas dipenjara selama 8 bulan di Nevada Training Centre karena mencoba mencekik seorang anak perempuan berusia 15 tahun. Gadis itu sedang berbaring di teras rumahnya saat Thomas lewat dan berusaha mencekiknya. Namun gadis itu berhasil melawan dan melarikan diri.
***Karena kekejiaannya, Thomas didakwa dengan pembunuhan tingkat pertama dan terancam hukuman mati. Namun berbeda dengan pengakuannya pada saat interogasi, di pengadilan Thomas mengaku tidak bersalah karena masalah kewarasan. Pengacaranya memanggil seorang psikiatris bernama Dr David Wilson untuk memberikan kesaksian. Dr David Wilson beropini, berdasarkan hasil M’Naghten test yg ia lakukan, hasilnya Thomas menunjukkan tanda-tanda kegilaan. M’Naghten test adalah sebuah test yg memiliki sebuah standar dimana seorang terdakwa pada saat melakukan suatu tindakan, dalam kasus ini pembunuhan, tidak bisa membedakan apa yg benar dan salah atau tidak memahami sifat moral dari tindakan tersebut karena kecacatan atau penyakit mental.
Namun, jaksa menyangkal opini Dr David Wilson dengan mendatangkan dua orang psikiatrist lain bernama Dr Rappaport dan Dr Toller. Berdasarkan hasil M’Naghten test yg dilakukan oleh kedua psikiatris tersebut, Thomas dinyatakan waras dan dalam keadaan sadar saat melakukan pembunuhan terhadap Sonja.
Juri sepakat dengan hasil test yg kedua dan Thomas dinyatakan bersalah atas pemubunuhan tingkat pertama. Ia menerima hukuman mati melalui kamar gas. Namun pada tahun 1972, Mahkamah Agung Amerika Setikat membatalkan semua hukuman mati yg tertunda setelah kasus Furman V, Georgia. Akibatnya, Thomas menjalani hukuman penjara seumur hidup tanpa kemungkinan pembebasan bersyarat. Sampai saat ini ia berada di Northern Nevada Correctional Center.
Sumber : Chillingcrimes.com




Komentar
Posting Komentar