Jack The Ripper - Siapakah Ia Sebenarnya? Part 1

 Jack the Riper, siapa yg tidak tau pembunuh berantai satu ini. Namanya sangat terkenal di seantero dunia terlepas dari identitasnya yg masih misterius sampai saat ini. Lebih dari satu abad, kisah-kisahnya masih sangat dinikmati oleh orang-orang. Anda yg sedang membaca ini salah satunya. Untuk itu, marilah kita bahas salah satu pembunuh berantai paling misterius di dunia. Inilah kisah kesadisannya...



Jack the Riper, sebutan untuk seorang pembunuh berantai yg telah menghabisi setidaknya 5 orang perempuan di dekat Distrik Whitechapel, London, pada tahun 1888. Ada  sekitar 11 pembunuhan yg terjadi antara tahun 1888 sampai 1892 yg disebut-sebut terkait dengan Jack the Riper, namun hanya 5 korban yg diketahui memiliki bukti yg terhubung dengan pembunuh itu.  Lima korban yg dikenal sebagai “The Cannonical Five” itu adalah Mary Ann Nicholas, Annie Chapman, Elizabeth Stride, Catherine “Kate”Eddowes,  dan Mary Jane Kelly.

                                                                                ***

Pada akhir tahun 1800-an, daerah East End di London sangat memperihatinkan. Walaupun disana terdapat banyak imigran yg terampil, kebanyakan orang Yahudi dan Rusia, East End terkenal sebagai tempat kumuh dengan banyaknya kekerasan dan kejahatan.

Praktek prostitusi sangat menjamur di distrik ini, ribuan wanita tuna susila dan penginapan-penginapan kecil siap untuk disewa. Pada masa itu, kekerasan atau pembunuhan yg terjadi terhadap wanita malam jarang sekali mendapat sorotan publik. Namun masyarakat sekitar Whitechapel gempar saat serangkaian pembunuhan terhadap wanita malam dimulai pada bulan Agustus di tahun 1888. Kesadisan pembunuh tersebut membuat kota London di penuhi teror. Para wanita itu bukan hanya dtusuk dengan pisau, tapi bagian tubuhnya di potong-potong, organ dalam seperti ginjal dan rahimnya juga di ambil.

Mari kita bedah satu persatu korban Jack the Ripper:

  1.   Mary Ann Nichols


Nasib Mary Ann tampaknya tidak terlalu beruntung. Mary Ann Lahir dari seorang tukang kunci di London pada tahun 1845. Marry sempat menikah dengan seorang pria namun kandas setelah Marry melahirkan anak ke 6 mereka. Alasan mereka bercerai karena katanya suaminya kepincut wanita lain. Namun mantan suami Mary Ann membela diri dengan mengatakan ketergantungan Mary Ann pada alkohol yg membuat mereka berpisah. Pengadilan mengharuskan mantan suami Mary Ann untuk menafkahinya sebanyak 5 shilling per-bulan, namun suaminya menolak memberikan nafkah setelah mengetahui mantan istrinya itu mencari uang dengan manjual diri. Setelah itu, untuk mencari nafkah Mary Ann sempat keluar masuk rumah kerja. Ia bahkan pernah bekerja sebagai pelayan di sebuah rumah. Namun pada akhirnya ia kembali ke pekerjaannya sebagai wanita malam.

Pada tanggal 31 Agustus 1888, Mary Ann meninggalkan pub dalam keadaan mabuk berat dan tidak punya uang sepeser pun. Marry Ann berniat menginap di sebuah penginapan, namun karena semua uangnya habis untuk mabuk-mabukan, ia kembali mencari pelanggan agar ia bisa mambayar kamarnya. Pada pukul 2.30 pagi, seorang kenalan bertemu dengannya. Mary Ann terlihat dalam keadaan mabuk berat, berjalan terhuyung-huyung dalam kegelapan di persimpangan jalan Osborn dan Whitechapel. Saat itulah Mary Ann terakhir kali terlihat hidup.

Sekitar pukul 3.40 pagi, seorang pria bernama Charles Cross sedang berjalan ke arah barat di sepanjang Buck’s Row saat  ia melihat sebuah bungkusan di pinggir jalan. Pria lain yg bernama Robert Paul datang dan mereka berdua mendekati bungkusan itu. Setelah kedua pria itu mendekat, mereka tersadar benda itu adalah jasad seorang wanita. Wanita itu ditemukan dalam keadaan tertelungkup, tenggorokannya terpotong, dan isi perutnya dikeluarkan. Ususnya terlihat dari rongga perutnya, hampir keluar. Setelah dilakukan pemeriksaan, dipastikan wanita itu meninggal sekitar setengah jam sebelum ditemukan oleh Charles Cross dan Robert Paul. Yg berarti, pelaku berada di sekitar tempat itu saat Cross pertama kali melihat mayat Mary Ann tergeletak di jalan.

Tingkat kebrutalan yg tidak biasa membuat kasus pembunuhan Mary Ann seketika menggegerkan kota London.

2. Annie Chapman



Kehidupan Annie Chapman bisa dikatakan lebih beruntung dari Mary Ann. Ia menghabiskan masa remaja  dan beberapa tahun kehidupan pernikahannya di Windsor, London Barat, dekat kastil kerajaan. Walaupun tidak kaya raya, bisa dikatakan kehidupan Annie Chapman mencukupi. Suaminya bekerja sebagai kusir kereta kuda. Annie dan suaminya, John, sempat mengambil foto sekitar tahun 1869. Mengambil foto pada saat itu bukan hal yg bisa dilakukan oleh orang dengan ekonomi pas-pasan.

Hidup tidak selalu indah, kata pepatah. Anak pertamanya mengalami disabilitas, sedangkan putri bungsunya meninggal karena meningitis. Annie dan suaminya yg depresi mulai akrab dengan alkohol. Mereka berpisah pada tahun 1884. Setelah bercerai, Annie pindah ke Whitechapel untuk hidup dengan seorang pria. Walaupun ia masih menerima tunjangan dari suaminya, Annie kadang-kadang melakukan praktik prostitusi untuk menambah penghasilan. Saat mantan suaminya meninggal dan ia tidak lagi menerima uang tunjangan, sepertinya mental  Annie mulai terguncang lagi. Bahkan seminggu sebelum kematiannya, Annie sempat berkelahi dengan seorang wanita bernama Eliza Cooper hanya karena sepotong sabun.

Sebelum ditemukan tewas, Annie minum bir di penginapan tempat ia menginap. Seperti halnya Mary Ann, Annie tidak memiliki uang untuk membayar kamarnya. Ia memberi tahu pemilik penginapan untuk menyisakan satu kamar untuknya malam itu, karena ia akan keluar untuk mencari pelanggan. Namun Annie tidak pernah kembali ke penginapan.

Pada 8 September 1888 dini hari, seorang pria tua bernama John Davis menemukan mayat Annie di ambang pintu rumahnya di 29 Hanbury Street. Leher Annie telah di gorok, isi perutnya yaitu sebagian kandung kemih dan rahimnya telah di keluarkan, sedangkan ususnya diletakkan di samping tubuhnya. Dokter yg mengotopsi mayat Annie menduga pelaku memiliki pengetahuan tentang anatomi tubuh manusia, melihat bagaimana ia bisa tau yg mana organ rahim dari sekian banyak organ yg ada di perut manusia.

Polisi menyatakan Annie meninggal karena kehabisan nafas, kemudian di mutilasi setelah ia meninggal.

Pada tanggal 27 September 1988, Central News Agency menerima surat dari sang pembunuh yg isinya berbunyi:

“Dear Boss, saya terus mendengar polisi telah menangkap saya tapi mereka tidak akan menangkap saya dulu. Saya tertawa ketika mereka terlihat sangat pintar dan berbicara tentang berada di jalur yg benar. Lelucon tentang Leather Apron benar-benar cocok dengan saya. Saya jatuh pada pelacur dan tidak akan berhenti merobek mereka sampai saya jatuh  bertekuk lutut. Karya terbaik adalah pekerjaan terakhir. Saya tidak memberi wanita itu waktu untuk menjerit. Bagaimana mereka bisa menangkapku sekarang? Saya cinta pekerjaan saya dan akan segera memulainya lagi. Kalian akan segera mendengar tentang saya dengan permainan kecil yg lucu. Saya menyimpan cairan berwarna merah di sebuah botol bir dari pekerjaan terakhir untuk menulis sesuatu namun cairan itu berubah kental seperti lem dan tidak bisa digunakan. Tinta merah juga sudah cukup saya harap. Ha. Ha. Pekerjaan berikutnya saya akan memotong telinga seorang wanita dan mengirimkannya ke petugas polisi untuk bersenang-senang. Simpan surat ini sampai saya melakukan sedikit lebih banyak pekerjaan, lalu berikan langsung. Pisau saya sangat tajam dan nyaman sampai saya tidak sabar ingin segera bekerja kalau ada waktu. Semoga beruntung. Hormat saya, Jack The Ripper. Jangan keberatan member saya nama panggung. Tidak terlalu baik untuk mengirimkan ini sebelum saya memperoleh semua tinta merah di seluruh tangan saya. Terkutuk. Masih Belum beruntung. Mereka bilang saya seorang dokter. Ha. Ha.”

Dear Boss Letter


Surat ini tidak dirilis ke public sampai 1 Oktober 1888. Banyak yg percaya surat ini hanya buatan seorang jurnalis, tapi bagaimanapun surat ini sampai ke surat kabar. Nama itu kemudian melekat di pikiran public, yg terkenal dengan sebutan Jack The Ripper sampai saat ini.

3.  Elizabeth Stride



Tidak seperti dua korban lainnya, Elizabeth Stride menjadi wanita malam bahkan sebelum ia menikah. Wanita kelahiran Swedia ini tiba di Inggris pada tahun 1866. ia sempat melahirkan seorang bayi yg meninggal di kandungan dan dirawat karena penyakit kelamin. Elizabeth menikah sekitar tahun 1869 tapi mereka kemudian berpisah. Elizabeth memberitahu orang-orang di sekitarnya bahwa suami dan anaknya meninggal dalam tragedi tenggelamnya kapal SS Princess Alice pada tahun 1878 di sungai Thames. Namun tidak ada yg tahu apa cerita itu benar atau hanya bualannya saja.

Dengan tidak adanya suami, Elizabeth bekerja sebagai wanita malam dan tidur di penginapan seperti wanita malam lainnya. Pada malam kematiannya, ada saksi yg melihat Elizabeth tengah berciuman dengan seorang laki-laki yg tampak “terhormat”. Namun tidak ada yg mengetahui siapa identitas laki-laki itu.

Louis Diemschutz, seorang pelayan pria, menemukan tubuh Elizabeth pada dini hari tanggal 30 September 1888. Darah masih mengalir dari luka di lehernya.  Tubuhnya tidak di rusak seperti tiga korban yg lain, polisi berspekulasi mungkin pelaku tidak sempat melakukan hal itu karena ia terganggu oleh sesuatu, lalu mencari korban lain.

4. Catherine Eddowes



Tidak seperti korban yg lain, Catherine Eddowes tidak pernah menikah. Namun ia hidup dengan banyak lelaki selama hidupnya. Pada usia 21 tahun, Catherine bertemu dengan Thomas Conway di kampung halamannya di Wolverhampton. Pasangan itu hidup bersama tanpa pernikahan selama kurang lebih 20 tahun dan memiliki tiga anak. Pasangan ini kemudian berpisah karena kebiasaan minum Catherine. Ia kemudian bertemu dengan John Kelly sampai dan hidup dengan pria itu sampai kematiannya. Menurut orang terdekatnya, Catherine bukan seorang pelacur. Tapi ia memang seorang pecandu alkohol yg parah. Pada malam itu, malam yg sama saat Elizabeth Stride terbunuh, seorang polisi menemukan ia mabuk berat dan pingsan di pinggir jalan Aldgate Street.

Catherine di bawa ke kantor polisi dan di bebaskan setelah sadar sekitar pukul satu dini hari. Catherine terlihat berjalan kembali ke arah Aldgate Streer. Ia terlihat berjalan bersama seorang pria tak di kenal oleh seorang saksi bernama Joseph Lawende. Saat itulah terakhir kali Catherine diketahui dalam keadaan hidup.

Hanya 45 menit dari ditemukannya mayat Elizabeth Stride, Mayat Catherine ditemukan di Mitre Square, sebelah barat tempat penemuan mayat Elizabeth Stride. Catherine ditemukan dalam keadaan yg mengerikan. Bukan hanya lehernya di gorok dan kelopak matanya di sayat, pembuluh darah di lehernya terpotong dan wajahnya di kuliti, ginjalnya, usus serta isinya di keluarkan.



Dokter yg menangani otopsi Catherine menyatakan, pelaku harusnya mengerti anatomi manusia untuk bisa mengeluarkan organ tubuh dalam keadaan gelap gulita. Namun ada pendapat lain yg menyatakan tidak harus paham anatomi tubuh untuk bisa mengeluarkan organ dalam, seorang jagal hewan pun bisa melakukannya.

Sekelompok polisi menyebar dari tempat Catherine ditemukan di Mitre Square sampai ke Whitechapel. Dua petunjuk ditemukan polisi. Sepotong kain celemek yg dikenakan Catherine Eddowes ditemukan di dekat TKP. Potongan kain itu ditemukan oleh Alfred Long di ambang pintu sebuah blok apartemen dekat Goulston Street, sebuah jalan di sebelah timur tempat ditemukannya mayat Catherine Eddowes. Dekat celemek itu sebuah pesan ditulis dengan kapur, berbunyi,”Orang-orang Juwes tidak akan disalahkan untuk apapun.” Pesan anti-semit yg sangat umum di daerah tersebut. Namun, petunjuk penting dari penemuan itu adalah fakta bahwa bukti itu ditemukan di sebelah timur TKP pembunuhan Catherine Eddowes, yg mengarah sekitar 45 menit ke arah pembunuhan Elizabeth Stride.

Kemudian, sebuah kartu pos diterima oleh kantor kepolisian bertanggal 1 Oktober dan ditulis oleh seseorang yg mengaku sebagai Jack The Ripper, dengan tulisan tangan yg sama. Surat itu berbunyi,”Saya tidak menipu, Bos Tua sayang, ketika memberi anda petunjuk.Kalian akan mendengar pekerjaan Saucy Jacky besok. Kali ini pekerjaan ganda. Nomor satu sedikit memekik, tidak bisa diselesaikan dengan baik. Tidak ada waktu untuk memberi polisi telinga. Terimakasih telah menyimpan surat pertama sampai saya melakukan pekerjaan lagi. Jack the Ripper.”

Saucy Jacky Post Card


Beberapa minggu kemudian, tanggal 16 Oktober 1888, seorang kepala Komisi Kewaspadaan Mile End, kelompok lokal yg membantu polisi, bernama George Lusk menerima sebuah kotak berisi sepotong surat yg ditandatangani  “dari neraka” beserta sebelah organ ginjal, yg di klaim dikirim oleh sang pembunuh. Dicurigai, organ itu milik Catherine Eddowes yg hilang. Namun belakangan diketahui, hal itu hanyalah prank dari seorang mahasiswa kedokteran.

5. Mary Jane Kelly



Mary Jane Kelly berasal dari Irlandia. Bisa dikatakan ia adalah korban dengan paras paling cantik dari semua korban Jack the Ripper. Ia sempat menikah selama tiga tahun , namun saat suaminya meninggal dalam sebuah kecelakaan batu bara, Mary Jane mengubah hidupnya menjadi seorang pelacur kelas atas yg sangat sukses.

Ketika ia bertemu dengan Joseph Bennet, pasangannya sampai akhir hidupnya, mereka hidup dengan berpindah-pindah dari satu penginapan ke penginapan lain. Kebanyakan mereka di usir dari penginapan karena mabuk-mabukan atau tidak bayar uang sewa.

Mendengar pembantaian para wanita malam, Mary Jane merasa was-was dan ketakutan sehingga ia membiarkan seorang pelacur lain untuk tinggal di kamar mereka. Pemilik penginapan mengetahui rencana itu dan menyuruh seorang karyawannya untuk pergi ke kamar Mary Jane untuk menagih uang sewa.

Hari itu tanggal 9 November 1888, hampir sebulan setelah penemuan dua korban terakhir. Karyawan penginapan yg bermaksud pergi ke kamar Mary Jane melihat pecahan kaca berserakan, lalu memasuki kamar Mary Jane. Di dalam, ia menemukan pemandangan yg tidak masuk akal. Mayat Mary Jane terbaring di atas tempat tidurnya, hampir tidak bisa dikenali. Permukaan perut serta pahanya di kuliti, isi perutnya telah di keluarkan. Payudaranya telah di potong dan tangannya di mutilasi. Tenggorokannya di gorok sampai tulang lehernya terputus. Wajahnya di sayat-sayat sampai tak bisa dikenali. Pelaku menaruh isi perut dan kulit Mary Jane di samping tempat tidurnya.



Foto mayat Mary Jane yg terbaring di tempat tidurnya menjadi saksi penderitaan dan kekejaman yg ia terima.

                                                                                ***

Dari kesaksian para saksi kunci yg mungkin melihat Jack the Ripper, dapat diasumsikan profil Jack the Ripper sebagai seorang pria berusia 25 sampai 35 tahun dengan tinggi sekitar 160cm sampai 170cm, berperawakan kekar, berkulit putih dan memiliki kumis. Diduga ia mengenakan mantel gelap dan topi hitam.

Dari 5 korban tersebut, kita bisa mengambil analisis sebagai berikut:

  • 1.       Tidak ada bukti kekerasan seksual di tubuh korban
  • 2.       Tersangka membunuh korban dengan lihai
  • 3.       Tersangka bisa mengontrol korban dengan serangan kilat
  • 4.       Tersangka memotong organ tubuh korban seperti  ginjal dan rahim yg mengindikasiakan pemahaman tersangka terhadap anatomi manusia
  • 5.       Tidak ada bukti penyiksaan sebelum pembunuhan
  • 6.       Mutilasi dilakukan setelah pembunuhan
  • 7.       Darah dari korban terkumpul di satu area kecil
  • 8.       Sebuah cincin diambil dari salah satu korban
  • 9.       Korban terakhir di bunuh di dalam ruangan dan hampir seluruh tubuhnya termutilasi yg mengindikasikan tersangka menghabiskan lebih banyak waktu di TKP
  • 10.   Waktu kematian rata-rata pada dini hari

LaLalu, siapakah Jack the Ripper yg menggegerkan kota London itu? lanjut Part 2.

Komentar