Tragedi Paiton 2003 dan Kisah Mistis yg Menyertainya

Sebelum berangkat study tour ke Bali, Sapto, siswa SMK Yapemda 1 sempat berpamitan kepada ibunya, Sulikah. Sang ibu merasakan sebuah firasat buruk, sehingga ia sempat melarang anak laki-lakinya itu pergi ke Bali. Namun, Sapto tetap ngotot ingin ikut. Sulikah semakin resah ketika ia tidak bisa menghubungi anaknya lewat telpon seluler. Keresahan Sulikah beakhir duka setelah ia menyaksikan berita kecelakaan lalu lintas di televisi. Nama anaknya tertera di urutan ke-31 dalam daftar korban meninggal.

Gambar Ilustrasi




Ratusan siswa kelas VIII SMK Yayasan Pembina Generasi Muda (Yapemda) 1 Sleman melakukan karyawisata atau study our ke Bali. Pada Rabu malam, tanggal 8 Oktorber 2003, dalam suasana riang gembira mereka bermaksud kembali ke kota asal mereka. Rombongan ini menggunakan 3 armada bus dari AO Transport yg melaju beriringan. Sebut saja Bus 1, Bus 2 dan Bus 3.Mereka berangkat dari Bali sekitar setelah isya.

Seperti menjadi pertanda, Bus 3 selalu saja tertimpa masalah selama perjalanan. Pertama mengalami 2 kali pecah kaca, lalu berlanjut dengan tersangkut kabel listrik sebelum bus tiba di pelabuhan Ketapang. Begitupun saat tiba di Ketapang Gilimanuk, Bus 3 kembali mengalami masalah. Bus 1 dan Bus 2 memutuskan untuk jalan lebih dulu dari kapal sambil menunggu Bus 3. Ketiga armada tersebut kemudian melanjutkan perjalanan beriringan menuju Sleman.

Namun tiba-tiba, Bus 3 mengabarkan bus 1 kalau bus mereka mengalami kendala pada rem yg gagal berfungsi. Untungnya, masalah itu berhasil di bereskan sehingga mereka bisa kembali melanjutkan perjalanan. Siapa sangka, malah bus 2 yg mengalami musibah.

Tragedi ini bermula saat salah satu bus,yaitu bus No 2 dengan 42 penumpang dan 2 orang kru melewati sebuah tanjakkan di tikungan Jalan Raya Surabaya-Banyuwangi, kawasan Banyu Blugur, Situbondo, Jawa Timur.

Sementara itu, di arah berlawanan sebuah mobil truk kontainer baru saja mengisi bahan bakar. Truk kontainer itu dikemudikan oleh sopir cadangan karena sopir utama ingin beristirahat.Saat memasuki tanjakan Paiton, sopir mencoba menaikkan kecepatan sebelum kemudian melewati jalan yg menurun dan tikungan yg cukup tajam. Truk kontainer yg sedang melaju cepat berusaha menghindari gundukan pasir di samping jalan, namun sopir truk kehilangan kendali dan  menabrak beberapa kendaraan dari awah berlawanan. Bus 1 dan Bus 3 berhasil lewat, Truk yg masih melaju kencang kemudian mengarah ke Bus 2 yg dinaiki oleh para pelajar dari SMK Yapemda 1. Tabrakan pun tak terelakkan. Truk kontainer itu menghantam bagian depan bus sebelah kiri. Percikan api muncul dari tangki bahan bakar truk kontainer yg pecah. Sementara itu, sebuah mobil Colt Diesel bermuatan mangga yg berada tepat di belakang Bus 2 tidak bisa menghindari kecelakaan. Truk itu menghantam bagian belakang bus sebelah kanan, membuat bus 2 terjepit diantara dua Truk.

Melihat api yg mulai membesar di bagian depan bus, para siswa beserta guru dan pemandu wisata mulai panik dan histeris. Mereka berlarian ke arah belakang bus sambil berteriak minta tolong. Mereka berusaha keluar dari pintu belakang bus. Naasnya pintu belakang macet karena ringsek oleh tabrakan itu. Ditambah lagi, tidak ada alat pemecah kaca di dalam bus. Sementara itu, sopir bus bernama Armando dan kernetnya yg bernama Budi Santoso berhasil keluar dari bus setelah memecahkan kaca depan dan melompati kobaran api. Budi mengalami luka bakar namun selamat.

Beberapa warga setempat yg melihat kejadian itu ikut berusaha membuka pintu bus bagian belakang dimana penumpang berkumpul.  Bahkan mereka berusaha memecahkan kaca jendela bus dengan melemparinya dengan batu, namun saat kaca berhasil pecah, para siswa tidak berani melompat. Selain jendela yg tinggi, kobaran api mempersulit proses evakuasi penumpang. Warga yg tidak bisa melakukan apa-apa hanya bisa mendengar ratapan minta tolong dari para penumpang bus. Tidak lama kemudian, terdengar ledakan kecil. Warga yg berada di sekitar bus kemudian mundur untuk menyelamatkan diri. Besarnya kobaran api lama kelamaan menelan suara ratapan para korban. Di dalam bus, Api menyebar dengan cepat melahap barang-barang  yg mudah terbakar. Penumpang bus yg berjejal di belakang perlahan-lahan terbakar hidup-hidup. Jerit dan tangis terdengar pilu di jalan yg tak jauh dari Pintu PLTU Paiton itu. Semua penumpang bus yg berisi 54 orang tewas terpanggang.

Tidak lama kemudian, petugas pemadam kebakaran datang untuk memadamkan api.  Setelah api padam, para petugas menemukan banyak korban tewas dibagian belakang bus, tepatnya di dekat pintu bekalang.



Dalam tragedi ini, 54 orang meninggal dunia, yg terdiri dari 51 pelajar, dua guru dan satu pemandi wisata.

Korban meninggal kemudian dibawa ke RSUD Situbondo. Para korban hanya bisa ditempatkan berjejer di lorong rumah sakit karena ruang mayat yg kecil dan terbatas. Jenazah mereka dalam keadaan luka bakar serius, sehingga pihak rumah sakit mengawetkan jenazah dengan menggunakan balok es. Ada beberapa jenazah yg kehilangan anggota tubuh, bahkan beberapa jenazah tidak bisa dikenali.

Iring-iringan ambulans yg membawa 54 jenazah korban dari RSUD Situbondo, Jawa Timur, ke Sleman, Yogyakarta, tiba di sekolah SMK Yapemda 1 Brebah Sleman sekitar pukul 04.50 pagi. Setiap mobil jenazah ditempeli nomor dan foto ukuran 10 R milik korban , termasuk 14 jenazah yg belum teridentifikasi. Sekda Provinsi DIY Yogyakarta saat itu, Bambang S Priyohadi yg mengawal iring-iringan ambulans menyerahkan secara simbolik pada korban kepada Gubrenur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono XI yg telah menunggu sejak dini hari.



Setelah itu, warga melakukan shalat jenazah. Keluarga korban berhamburan menuju mobil ambulans. Suasana sangat memilukan, diiringi hujan airmata dari keluarga korban yg ditinggalkan. Semua korban diambil oleh keluarga masing-masing untuk dikebumikan dan disolatkan kembali.

Atas kejadian ini, sopir truk trailer yg bernama Kozin dan kernetnya yg bernama Syafii dijadikan tersangka atas peristiwa ini. Polisi jiga menetapkan sopir bus, Armando sebagai tersangka karena dinilai tidak maksimal menolong  korban.

Selain faktor kelalaian manusia, daerah Banyu Glugur memang dikenal rawan kecelakaan. Jalan di kawasan ini berbelok-belok serta naik turun. Penerangan pun sangat minim, sementara di sisi kiri dan kanannnya berupa bukit dan semak-semak.

Kejadian Mistis pasca kecelakaan

Setelah peristiwa yg menggemparkan itu, beberapa warung disekitar lokasi kecelakaan menutup tempat usahanya . Mereka mengaku masih terbawa perasaan sedih, takut, ngeri mengingat kejadian itu.

Selain itu, konon penjaga sekolah SMK Yapemda 1 sempat mengalami kejadian mistis. Ia mengaku kerap didatangi arwah para korban. Pernah suatu malam ketika ia berkeliling untuk berpatroli di sekolah, ia melewati sebuah kelas. Ia melihat kelas itu penuh dengan para murid dan guru yg sedang belajar mengajar. Namun setelah mendekat, ia terkejut melihat wajah para siswa dan guru di kelas itu gosong seperti terbakar.

Cerita mistis juga di alami para pengendara yg melewati jalan bekas kecelakaan. Beberapa pengendara yg lewat di malam hari  kerap dihantui  dengan penampakan sebuah bus yg berhenti di pinggir jalan. Bagian dalam bus terlihat tenang, namun saat para pengendara mendekat, mereka melihat penumpang bus dengan wajah gosong menatap mereka.

sumber:

koranmemo.com

popbela.com

www.viva.co.id

laros.id

liputan6.com

Komentar