Pada Desember 2010, seorang pria berusia 76 tahun tewas terbakar di lantai ruang tamu rumahnya di Irlandia. Setahun kemudian, polisi meyimpulkan pria tersebut tewas karena sebuah fenomena aneh yg dikenal dengan Sponteneous Human Combustion. Polisi menyimpulkan hal tersebut setelah menemukan kondisi korban yg terbakar sampai menjadi abu dan hanya menyisakan kedua tangan dan kakinya. Anehnya, kedua tangan dan kaki itu dalam keadaan mulus. Sedangkan ruangan dan furnitur didalamnya mengalami kerusakan yg minim akibat proses kebakaran. Sungguh aneh. Pertanyaannya, apaka fenomena ini nyata?
Fenomena aneh yg dialami pria tersebut biasa disebut Spontaneous Human Combustion atau terbakarnya manusia secara spontan. Fenomena ini bisa di telusuri sampai pada abad ke-17 dengan kasus paling banyak ditemukan pada abad ke-19 dan beberapa kasus terjadi pada abad ke-20 dan abad ke-21.
Secara medis, SHC juga bisa ditelusuri sampai pada abad ke 18. Paul Rolli, seorang anggota dari London's Royal Society, akademi tertua didunia, menciptakan istilah itu dalam sebuah artikel pada tahun 1744 berjudul Philosphical Transaction. Rolli menggambarkan fenomena SHC sebagai "suatu proses dimana tubuh manusia diduga terbakar akibat panas yg dihasilkan oleh aktifitas kimia internal, tapi tanpa adanya bukti adanya sumber api eksternal." Pemikiran ini mendapatkan polularitas pada saat itu dan SHC secara khusus dikaitkan dengan takdir bagi orang-orang yg kecanduan alkohol pada era Victoria. Charles Dickens bahkan menuliskannya dalam sebuat novel pada 1853 dengan judul Bleak House, dimana seorang karakter kecil bernama Krook, seorang pedagang licik yg suka minum gin secara spontan terbakar sampai mati.
Contoh Kasus SHC
Kasus SHC yg pertama kali tercatat dalam sejarah terjadi di Milan, Italia pada tahun 1400-an, ketika itu seorang kstaria bernama Polonus Vorstius tiba-tiba terbakar sampai mati di depan orangtuanya. Polonus dikatakan terbakar secara tiba-tiba setelah mengonsumsi beberapa gelas anggur yg kuat.
Kasus kedua dialami oleh Countess Cornelia Zangari de Bandi, 66 tahun, pada musim panas tahun 1745. Sang Countess pergi tidur lebih awal, dan esok paginya, pelayannya menemukan Counterss de Bandi menjadi tumpukan abu. Yg tersisa dari tubuhnya hanyalah kepala yg terbakar sebagian dan kakinya yg berhias kaus kaki. Walaupun di kamar Countess de Bandi terdapat dua buah lilin, lilin itu masih utuh seperti tidak tersentuh api. Diketahui, sang Countess sangat gemar minum brendi dan sering menggosokkan brendi padat ke seluruh tubuhnya untuk menyembuhkan ketidaknyamanan.
Kasus ketiga dialami oleh seorang wanita berusia 88 tahun bernama Margaret Hogan. Ia tinggal sendirian di sebuah rumah di pinggiran Dublin, Irlandia. ia ditemukan hampir terbakar habis pada 28 Maret 1970. Saksi yg berada di okasi mengatakan Margaret telah berubah menjadi tumpukan abu yg kecil. Di dalam ruangan tempat Margaret tewas, ada indikasi panas yg ekstrim. Disudut ruangan, televisi berubah menjadi gumpalan plastik. Namun hanya ada sedikit arang di sekitar tempat duduk dimana Margaret ditemukan yg mengindikasikan memang telah terjadi kebakaran.
Kasus keempat dialami oleh Henry Thomas, 73 tahun, yg tewas pada tahun 1980. Ia ditemuakn tewas di rumahnya di South Wales. Thomas sedang berbaring di kursi malasnya ketika ia terjebak dalam kobaran api yg hebat yg membakar bagian atas tubuhnya. Thomas tewas seketika. Tengkorak dan kedua kakinya tidak terbakar. Anehnya, kedua kakinya itu tidak terbakar sama sekali, bahkan meninggalkan celana dan kaos kaki yg lolos dari api
Kasus kelima adalah kasus Jeannie Saffin yg tinggal di Edmonton, London. Jeannie mengalami kecacatan mental sejak lahir yg membatasi kemampuanya seperti anak-anak. Kematiannya terjadi saat ia berusia 61 tahun. Saat itu ia berada di rumah dengan ayah dan sudara iparnya. Pada tanggal 15 September 1982, Jeannie sedang duduk berdua dengan ayahnya. Saat ayahnya menoleh melihat kearah lain, ia terkejut melihat Jeanni tiba-tiba terbakar. Ayah dan iparnya kemudian mangambil air di ember untuk memadamkan api yg membakar Jeannie sebelum membawanya ke rumah sakit. Ia meninggal setelah dirawat selama delapan hari di rumah sakit karena "bronkopneumonia akibat luka bakar." Penyidik yg menyelidiki kasus Jeannie kebingungan karena mereka menemukan kursi dan dinding dekat Jeannie duduk tidak rusak oleh api atau asap. Selain itu tidak ditemukan sumber api yg jelas.
Kasus selanjutnya dialami oleh George Mott. Saat itu, putranya Kendal Mott, mengunjungi rumah ayahnya setelah ayahnya itu tidak menjawab banyak panggilan telepon. Kendal menemukan jendela rumah ayahnya kecoklatan dan interior rumah berasap. Kendal menemukan sisa-sisa tubuh George di kamarnya. Hanya ada abu, beberapa serpihan tulang dan tengkorak. Mirisnya, George adalah veteran pemadam kebakaran dan bukan seorang perokok. Penyidik juga tidak menemukan sumber api dari eksternal.
Kasus keenam adalah kasus Matilda Rooney. Saat itu tanggal 25 Desember 1885, Matilda Rooney dan suaminya, Patrick, ditemukan meninggal dunia di kediaman mereka dalam keadaan yg cukup aneh. Malam itu mereka hanya berdua di rumah. Matilda ditemukan di dapur rumahnya, tubuhnya terbakar menjadi abu dan hanya menyisakan kakinya yg utuh tak tersentuh api. Sedangkan suaminya, Patrik, ditemukan meninggal di kursi goyang di dapur, namun mayatnya tidak terbakar. Menurut hasil pemeriksaan pada mayat Patrick, ia meninggal karena sesak nafas dan tidak sadarkan diri akibat asap yg membakar tubuh istrinya. Sepertinya api hanya membakar tubuh Matilda dan tidak menyebar ke tempat lain. Polisi tidak menemukan hal yg janggal di rumah itu. Salah seorang saksi yg menghabiskan beberapa jam sebelum kematian mereka bersaksi Matilda dan Patrick malam itu diketahui sedang santai dan menyesap wiski mereka.
Kasus selanjutnya adalah kematian Nicole Millet. Nicole ditemukan meninggal di sebuah kursi yg anehnya tidak ikut terbakar. Nicole Millet diketahui adalah seorang wanita dari Paris yg suaminya mengelola sebuah penginapan bernama Lion d'Or. Suaminya mendeteksi adanya api berkobar di dapur pada tanggal 20 fFbruari 1725. Ketika ia tiba di dapur, ia melihat istrinya sudah terbakar. Api itu hanya membakar tubuh Nicole, sedangkan tempat disekitarnya tidak banyak terdampak seperti kebanyakan korban-korban SHC lainnya. Suami Nicole sempat dibawa ke persidangan , namun di bebaskan karena kurangnya bukti.
Korban fenomena SHC selanjutnya adalah seorang wanita bernama Phyllis Newcombe, 22 tahun, yg sedang berdansa dengan tunangannya, Henry McAusland pada sebuah pesta dansa bulanan yg diadakan di Chelmsford, Essex pada 27 Agustus 1938. Tiba-tiba, Phyllis dilalap api berwarna kebiruan. Phyllis terbakar sampai menjadi abu di tengah lantai dansa hanya dalam waktu dua menit, ia sulit dikenali sebagai manusia lagi.
Bagiamana SHC terjadi?
Para ahli tidak dapat menjelaskan kematian itu dengan cara lain dan kesamaan terlihat diantara para korban. Api hanya membakar tubuh korban dan lingkungan dekat tubuhnya. Tidak jarang juga ditemukan luka bakar dan kerusakan di tubuh korban bagian atas atau bagian bawah, menyikakan bagian batang tubuh yg habis terbakar menjadi abu.
Namun peneliti meyimpulkan fenomena itu tidak semisterius kelihatannya.
Kenyataan aneh bahwa kerusakan akibat kebakaran biasanya terbatas pada tubuh korban dan lingkungan dekat tubuh korban. Api bisa membatasi diri dan padam secara alami setelah kehabisan bahan bakarnya. Dalam kasus SHC, bahan bakar tersebut merupakan lemak yg berada dalam tubuh manusia. Dan karena api cenderung membakar ke arah atas daripada ke samping, pemandangan tubuh yg terbakar dengan parah di dalam ruangan tertutup ternyata dapat dijelaskan secara ilmiah. Api seringkali gagal bergerak secara horizontal terutama tanpa adanya angin atau udara yg mendorongnya.
Selain itu, fakta lain yg bisa menjelaskan minimnya kerusakan pada daerah sekitar tubuh adalah karena adanya efek sumbu, yg namanya diambil dari proses lilin yg mengandalkan bahan lilin pada sumbu agar apinya tetap menyala. Efek sumbu itu menggambarkan bagaimana manusia dapat berfungsi seperti lilin. Pakaian dan rambut bisa dibilang adalah sumbunya, dan lemak dalam tubuh bisa berfungsi sebagai zat yg mudah terbakar.
Saat api membakar tubuh, lemak subkutan meleleh dan membasahi pakaian. Pasokan lemak yg terus menerus pada "sumbu" memungkinkan api untuk terus membakar pada suhu yg sangat tinggi sampai tidak ada lagi bahan untuk dibakar, kemudian padam dengan sendirinya. Hasilnya adalah tumpukan abu seperti yg terlihat dalam fenomena SHC.
Bagimana api dimulai?
Ilmuwan juga ternyata punya jawaban untuk hal itu. Sebagian besar mereka yg meninggal karena SHC adalah orangtua yg tinggal sendirian dan duduk atau tidur di dekat sumber api. Banyak korban ditemukan dekat perapian yg terbuka dan ada juga yg ditemukan dekat rokok yg menyala didekatnya. Selain itu banyak juga yg mengalami SHC saat sedang minum alkohol. Sementara orang-orang zaman Victoria berpikir bahwa alkohol, dimana ia adalah zat yg mudah terbakar, menyebabkan semacam reaksi kimia di perut yg menyebabkan pembakaran spontan, penjelasan yg lebih memungkinkan adalah mereka yg minum alkohol berada dalam situasi tidak sadarkan diri. Hal ini juga menjelaskan mengapa banyak orang lanjut usia yg meninggal karena SHC. Orang tua mempunyai kemungkinan lebih tinggi untuk menderita stroke atau serangan jantung, yg memungkinkan mereka menjatuhkan rokok atau sumber api lainnya. Sehingga tubuh yg itu terbakar tidak berdaya.
Hampir semua kasus SHC ditemukan tidak memiliki saksi persis seperti jika terjadi kecelakaan karena mabuk atau mengantuk. Dengan tidak adanya orang disekitar yg bisa mematikan api, menyebabkan sisa tubuh yg menjadi abu tampak seperti kasus misterius yg sulit dijelaskan.
Sumber:

Komentar
Posting Komentar